Case Study / Mangrove Belitung Timur

Mangrove Belitung Timur

Portofolio perlindungan, rehabilitasi, dan restorasi mangrove dengan nilai ekonomi publik positif, potensi hasil mitigasi terukur, serta pembiayaan berlapis yang disesuaikan dengan kesiapan proyek.

Mangrove Belitung Timur

Site overview

Ekosistem mangrove Belitung Timur tersebar di pesisir Kelapa Kampit, Manggar, Damar, Gantung, Simpang Pesak, Dendang, dan pulau-pulau kecil. Analisis Sentinel-2A 2016–2025 memperkirakan luas mangrove 2025 sebesar 7.872,69 ha, didominasi kelas berkerapatan lebat. Rekonsiliasi spasial pada bahan Canva mencatat cakupan ekologis/Tier 3 sebesar 8.695,61 ha dan area tidak eligible 5.766,12 ha, sehingga area eligible indikatif mencapai 2.929,56 ha. Angka ini masih perlu dikunci per poligon melalui pemeriksaan hak, additionality, metodologi, safeguards, dan MRV. Pengukuran lapangan dan laboratorium Tier 3 menyediakan SOC secara eksplisit sampai kedalaman 150 cm. SOC 0–150 cm mencapai 67,34 Mg C/ha pada mangrove jarang, 211,90 Mg C/ha pada kelas sedang, dan 316,06 Mg C/ha pada kelas lebat. Setelah digabungkan dengan biomassa dan pool lain, total stok ekosistem berbasis kedalaman 150 cm mencapai sekitar 197,74 Mg C/ha pada kelas jarang, 307,41 Mg C/ha pada kelas sedang, dan 497,17 Mg C/ha pada kelas lebat. Estimasi stok ekosistem keseluruhan sekitar 8.320.296,15 Mg C atau ±30,50 juta tCO₂e merupakan stok ekologis, bukan kredit karbon. Model investasi menggunakan area operasional 2.579,45 ha yang mencakup perlindungan 2.460,66 ha, rehabilitasi/ANR 57,26 ha, dan restorasi 61,53 ha. Area perubahan karbon inti 118,79 ha menghasilkan basis unit potensial 18.278,55 tCO₂e dan risk-adjusted delivery 8.442,73 tCO₂e. Skenario bankability memperkirakan 42.590,48 tCO₂e dapat dikreditkan dan 19.930,12 tCO₂e dapat dijual setelah penyesuaian risiko. Seluruh angka tersebut masih hasil model. Unit yang telah diterbitkan dan dapat dipasarkan masih 0 tCO₂e. Dari perspektif ekonomi publik, skenario sentral menghasilkan NPV +Rp65,60 miliar dan BCR 1,51. Arus kas karbon saja belum menutup biaya: NPV karbon-saja −Rp76,02 miliar, NPV blended finance −Rp64,07 miliar, dan kebutuhan sumber tambahan indikatif Rp32,65 miliar. Karena itu proyek direkomendasikan sebagai investasi kepentingan publik dengan dana publik/hibah pada tahap penyiapan, pembiayaan campuran untuk implementasi, RBP/PES untuk hasil terukur, dan pendapatan karbon hanya pada area yang lolos seluruh persyaratan.

Pressures and risks

Degradasi dan kehilangan tutupan
Sekitar 79,43 ha teridentifikasi berpotensi terdegradasi. Baseline memperkirakan kehilangan mangrove sekitar 12 ha/tahun apabila tekanan penggunaan lahan, infrastruktur pesisir, tambak, dan perubahan hidrologi tidak dikendalikan.
Batas proyek dan eligibility
Area ekologis, area operasional, area perubahan karbon, dan final creditable area mempunyai fungsi berbeda. Geometri final harus direkonsiliasi dengan status ruang, tenurial, additionality, dan metodologi.
Arus kas belum bankable
Pendapatan karbon skenario sentral belum menutup seluruh biaya proyek. Minimum DSCR model sekitar −2,70x dan kebutuhan pendanaan tambahan indikatif mencapai Rp32,65 miliar.
Hak dan kewenangan hasil mitigasi
Proponen formal, pemegang akun registri, kewenangan pengajuan, hak atas unit, dan penerima manfaat kontraktual belum ditetapkan secara final.
Safeguards dan risiko sosial
Perubahan akses, konflik pemanfaatan ruang, dan risiko eksklusi kelompok rentan memerlukan PADIATAPA/FPIC, GEDSI, benefit sharing, dan grievance mechanism yang terdokumentasi.
Perlindungan 2.460,66 ha→

Melindungi tegakan yang masih berfungsi melalui pengawasan, pengendalian konversi dan gangguan hidrologi, serta penguatan pengelolaan kawasan dan habitat perikanan.

Rehabilitasi dan ANR 57,26 ha→

Memulihkan area terdegradasi melalui perbaikan hidrologi, assisted natural regeneration, pengendalian tekanan, dan pemantauan keberhasilan per kohort.

Restorasi aktif 61,53 ha→

Melakukan restorasi aktif hanya pada unit yang sesuai secara biofisik, sosial, tenurial, dan metodologis, dengan pemeliharaan dan penggantian tanaman yang terukur.

Pengelolaan berkelanjutan dan livelihood→

Menghubungkan perlindungan mangrove dengan perikanan, usaha pesisir, patroli masyarakat, biodiversitas, perlindungan pantai, dan manfaat ekonomi lokal.

Implementasi bertahap 2026–2034+→

Tahap awal berfokus pada de-risking dan penyiapan, dilanjutkan implementasi-demonstrasi, scale-up berbasis hasil, lalu monetisasi dan reinvestasi setelah penerbitan.

Baseline spasial 2016–2025→

Menggunakan Sentinel-2A, PMN 2024, drone, survei lapangan, dan metadata untuk memisahkan area ekologis, area intervensi, leakage belt, serta area klaim.

Pengukuran karbon Tier 1–3→

Tier 1 mendukung screening dan Tier 2 mendukung stratifikasi spasial. Tier 3 mengukur vegetasi, biomassa, serasah, dan SOC lapangan sampai 150 cm. SOC 0–150 cm berkisar 67,34–316,06 Mg C/ha menurut kelas kerapatan; kedalaman yang sama harus dipertahankan pada monitoring berikutnya.

Akuntansi hasil mitigasi→

Sistem perlu menghitung baseline, additionality, emisi proyek, leakage, uncertainty, non-permanence, buffer, dan perubahan stok yang dapat diatribusikan kepada intervensi.

Monitoring plan dan QA/QC→

Data room, evidence tracker, version control, jadwal pengukuran, SOP laboratorium, dan rantai audit diperlukan untuk menghubungkan bukti spasial, karbon, sosial, dan safeguards.

Validasi, verifikasi, dan registri→

Hasil model belum sama dengan hasil terverifikasi. Unit baru dapat dipasarkan setelah validasi, verifikasi independen, registrasi, penerbitan, penetapan hak, serta pengendalian penghitungan ganda.

Public/grant untuk enabling costs→

APBN/APBD, BPDLH, hibah, dan project preparation support membiayai rekonsiliasi hak dan batas, safeguards, PADIATAPA, MRV, kelembagaan, serta kesiapan DRAM/PDD.

Blended dan concessional finance→

Pembiayaan campuran menanggung implementasi awal, rehabilitasi/restorasi, operasi dan pemeliharaan, serta risk sharing sebelum arus kas proyek stabil.

Results-Based Payment dan PES→

RBP/PES dapat membayar hasil iklim, ekosistem, atau sosial yang telah diukur dan disepakati melalui indikator, kontrak, jadwal pembayaran, dan penerima yang jelas.

Karbon sebagai pendapatan selektif→

Pendapatan karbon menjadi lapisan tambahan hanya untuk area dan hasil yang memenuhi eligibility, methodology, MRV, safeguards, validasi, registrasi, issuance, dan transfer.

NPV publik dan kesenjangan pembiayaan→

NPV ekonomi publik +Rp65,60 miliar dan BCR 1,51 menunjukkan manfaat publik melebihi biaya ekonomi, tetapi kebutuhan sumber tambahan indikatif Rp32,65 miliar tetap harus distrukturkan.

Hak, manfaat, dan akuntabilitas→

Pemerintah dan mitra perlu menetapkan proponen, kewenangan registri, hak hasil mitigasi, tata kelola pendapatan, pembagian manfaat, serta mekanisme pengawasan dan pengaduan.

Quick stats

Mangrove 20257.872,69 ha
Area eligible indikatif2.929,56 ha
Stok karbon Tier 3 4.420.401 juta tCO₂e
Prakiraan creditable42.590,48 tCO₂e
Risk-adjusted saleable19.930,12 tCO₂e
NPV ekonomi publik+Rp65,60 miliar
Economic BCR1,51x
Kebutuhan pendanaanRp32,65 miliar

Mini map

Review